Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Mei 2016
Hangeul
Annyeonghaseyo chingu!!
Sekarang admin yang kece ini ingin
mengajarkan Bahasa Korea kepada teman-teman semua karena mengingat pesatnya
perkembangan entertainment Korea.
Sebelumnya, ayo kita bahas dulu
tentang sejarah singkat Bahasa Korea. Bahasa Korea terdiri dari
alphabet-alphabet atau yang sering disebut Hanguel. Hangeul ini dibuat oleh
Raja Sejong pada masa dinasti Joseon. Bahasa Korea terdiri atas 24 huruf yaitu
14 huruf mati dan 10 huruf vocal. Berikut huruf-huruf Korea.
Huruf mati
Huruf vocal
Setelah teman-teman bisa membaca dan ingat dengan
huruf-huruf diatas, maka kita dapat membaca semua tulisan Korea dengan sangat
gampang.
Ayo kita coba membaca tulisan Korea.
예 ( Ye ) Ya
아, 네 ( A, Ne ) Oh, ya
아니오 ( Anio ) Tidak
안녕하십니까 ?
( Annyeong hasimnika ? ) Apa kabar ? Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam ( Informal )
안녕히 가십시요 ( Annyeonghi Kasipsiyo ) Selamat Jalan
안녕히 가세요 ( Annyeonghi Kaseyo ) Selamat Jalan ( Informal )
안녕히계십시요 ( Annyeonghi Kyesipsiyo ) Selamat Tinggal
안녕히계세요 ( Annyeonghi Kyeseyo ) Selamat Tinggal ( Informal )
안녕히주무세요 ( Annyeonghi Jumuseyo ) Selamat Tidur
잘자요 ( Cal Cayo ) Selamat Tidur ( Informal )
어서 오십시요 ( Eoseo Osipsiyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk
어서 오세요 ( Eoseo Oseyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk ( Informal )
들어오십시요 ( Deureo Osipsiyo ) Silahkan Masuk. ( Yang menyuruh didalam )
들어 오세요 ( Deureo Oseyo ) Silahkan Masuk ( Informal )
들어 가십시요 ( Deuro Kasipsiyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar )
들어 가세요 ( Deuro Kaseyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar ) ( Informal )
어떻게지냈습니까 ? (Eotteokhe Jinaesimnika) Bagaimana Kabar anda ?
어떻게지내세요 ? ( Eotteokhe Jinaeseyo ) Bagaimana Kabar anda ? ( Informal )
잘지냅니다 ( Cal Cinaemnida ) Baik – baik saja
잘지내요 ( Cal Cinaeyo ) Baik – baik saja ( Informal )
또만납시다 ( To Mannapsida ) Sampai Jumpa lagi
또만나요 ( To Mannayo ) Sampai jumpa lagi ( Informal )
실례합니다 ( Silye Hamnida ) Permisi
하세요 ( haseyo ) Silahkan lakukan
반갑습니다 ( Ban gapseumnida ) Senang berjumpa anda
반가워요 ( Ban gawoyo ) Senang berjumpa anda ( Informal )
감사합니다 ( Kamsa hamnida ) Terima kasih
미안합니다 ( Mian hamnida ) Maaf
미안해요 ( Mian haeyo ) Maaf ( Informal )
괜찮습니다 ( Kwen chan seumnida ) Tidak apa-apa
괜찮아요 ( Kwen chan ayo ) Tidak apa-apa(Informal)
잡드세요 ( Cap deuseyo ) Silahkan makan
식사하십시요 ( Siksa hasipsiyo ) Selamat makan
식사하세요 ( Siksa haseyo ) Selamat makan (Informal)
아, 네 ( A, Ne ) Oh, ya
아니오 ( Anio ) Tidak
안녕하십니까 ?
( Annyeong hasimnika ? ) Apa kabar ? Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam ( Informal )
안녕히 가십시요 ( Annyeonghi Kasipsiyo ) Selamat Jalan
안녕히 가세요 ( Annyeonghi Kaseyo ) Selamat Jalan ( Informal )
안녕히계십시요 ( Annyeonghi Kyesipsiyo ) Selamat Tinggal
안녕히계세요 ( Annyeonghi Kyeseyo ) Selamat Tinggal ( Informal )
안녕히주무세요 ( Annyeonghi Jumuseyo ) Selamat Tidur
잘자요 ( Cal Cayo ) Selamat Tidur ( Informal )
어서 오십시요 ( Eoseo Osipsiyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk
어서 오세요 ( Eoseo Oseyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk ( Informal )
들어오십시요 ( Deureo Osipsiyo ) Silahkan Masuk. ( Yang menyuruh didalam )
들어 오세요 ( Deureo Oseyo ) Silahkan Masuk ( Informal )
들어 가십시요 ( Deuro Kasipsiyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar )
들어 가세요 ( Deuro Kaseyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar ) ( Informal )
어떻게지냈습니까 ? (Eotteokhe Jinaesimnika) Bagaimana Kabar anda ?
어떻게지내세요 ? ( Eotteokhe Jinaeseyo ) Bagaimana Kabar anda ? ( Informal )
잘지냅니다 ( Cal Cinaemnida ) Baik – baik saja
잘지내요 ( Cal Cinaeyo ) Baik – baik saja ( Informal )
또만납시다 ( To Mannapsida ) Sampai Jumpa lagi
또만나요 ( To Mannayo ) Sampai jumpa lagi ( Informal )
실례합니다 ( Silye Hamnida ) Permisi
하세요 ( haseyo ) Silahkan lakukan
반갑습니다 ( Ban gapseumnida ) Senang berjumpa anda
반가워요 ( Ban gawoyo ) Senang berjumpa anda ( Informal )
감사합니다 ( Kamsa hamnida ) Terima kasih
미안합니다 ( Mian hamnida ) Maaf
미안해요 ( Mian haeyo ) Maaf ( Informal )
괜찮습니다 ( Kwen chan seumnida ) Tidak apa-apa
괜찮아요 ( Kwen chan ayo ) Tidak apa-apa(Informal)
잡드세요 ( Cap deuseyo ) Silahkan makan
식사하십시요 ( Siksa hasipsiyo ) Selamat makan
식사하세요 ( Siksa haseyo ) Selamat makan (Informal)
있습니다 ( Ne, iseumnida ) Ya, ada/punya
네, 있어요 ( Ne, issoyo ) Ya, ada/punya (Informal)
아니요, 없습니다, ( Anio, eopseumnida ) Tidak, tidak/tidak punya
아니요, 없어요 ( Anio, eopseoyo ) Tidak, tidak/tidak punya (Informal)
안되요 ( Andweyo ) Jangan
여보세요 ( Yeoboseyo ) Hallo *buat orang menelpon*
주세요 ( Juseyo ) Minta
알아요 ( Arayo ) Tahu, mengerti
모라요 ( Molayo ) Tidak tahu, tidak mengerti
알랐어요 ( Aratseoyo ) Sudah mengerti, sudah tahu
아이고 ( Aigo ) Aduh
위험해 ( Wiheomhae ) Awas
좋아요 ( Joayo ) Bagus
그래요 ( Geuraeyo ) Benarkah?
최고다 ( Choegoda ) Asyik
정말 ( Jeongmal ) Sungguh
거짓말 ( Keojitmal ) Bohong
과연 ( Gwa yeon ) Kemudian
네, 있어요 ( Ne, issoyo ) Ya, ada/punya (Informal)
아니요, 없습니다, ( Anio, eopseumnida ) Tidak, tidak/tidak punya
아니요, 없어요 ( Anio, eopseoyo ) Tidak, tidak/tidak punya (Informal)
안되요 ( Andweyo ) Jangan
여보세요 ( Yeoboseyo ) Hallo *buat orang menelpon*
주세요 ( Juseyo ) Minta
알아요 ( Arayo ) Tahu, mengerti
모라요 ( Molayo ) Tidak tahu, tidak mengerti
알랐어요 ( Aratseoyo ) Sudah mengerti, sudah tahu
아이고 ( Aigo ) Aduh
위험해 ( Wiheomhae ) Awas
좋아요 ( Joayo ) Bagus
그래요 ( Geuraeyo ) Benarkah?
최고다 ( Choegoda ) Asyik
정말 ( Jeongmal ) Sungguh
거짓말 ( Keojitmal ) Bohong
과연 ( Gwa yeon ) Kemudian
Gampangkan?? Mungkin ada kesulitan sedikit bagi
orang yang belum pernah belajar sebelumnya tentang bagaimana cara pengucapan
atau ada beberapa huruf yang tidak dibaca. Kali ini admin cuma membahas
alphabet Korea, mungkin lain waktu admin akan mengpost tentang tata cara
grammar. Kalau teman-teman(khususnya anak UC) ada pertanyaan atau ingin belajar
Bahasa Korea bisa hubungin admin.
Rabu, 04 Mei 2016
Lenong
Apakah itu lenong? Dari manakah asalnya? Apakah
lenong merupakan budaya Indonesia berupa tarian tradisional atau permainan tradisonal? Bukan, Lenong merupakan suatu budaya khas
Indonesia yang berasal dari betawi. Lenong merupakan suatu tontonan tradisional dalam bentuk
teater.
Biasanya,
tontonan tradisional khas betawi ini
digelar sambil diiringi gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa
seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.
Skenario dalam tontonan tradisional ini mengandung sebuah pesan seperti, menolong yang lemah, menolak
kerakusan dan perbuatan tercela, dsb. Tidak seperti ludruk yang bertujuan untuk
menghibur penonton. Bahasa yang digunakan dalam lenong menggunakan bahasa
melayu dengan dialek khas orang betawi.
Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong
denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes
dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"),
aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan,
sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh
sutradara dan
umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong
ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya
menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu
tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan
sehari-hari.
Wayang
Wayang merupakan suatu budaya Indonesia yang berupa tontonan tradisional yang menggunakan boneka. Kesenian ini bahkan
sudah diakui oleh UNESCO, lembaga kebudayaan dibawah PBB, sebagai tontonan tradisional bayangan boneka yang terkenal dari Indonesia
dan merupakan suatu warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni
bertutur (Masterpiece of Oral and
Intangible Heritage of Hummanity).
Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada
di Indonesia karena banyak pula negara lain yang memiliki pertunjukan boneka. Namun pertunjukan bayangan boneka
(Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikan tersendiri, yang
merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Oleh karena itu, UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2003.
Wayang bukan suatu permainan tradisional ataupun tarian tradisional. Seperti yang sudah dikatakan di atas, wayang yang merupakan
suatu tontonan tradisional di Indonesia, berkembang sangat pesat di pulau Jawa dan
Bali, tetapi ada juga yang berkembang pulau-pulau lainnya. Kesenian ini sudah
banyak terpengaruh oleh budaya Jawa dan Hindu.
Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah
ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan.
Diperkirakan seni pertunjukan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan lokal dan
kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni
pertunjukan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukan di
Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan
wayang berasal dari Prasasti Balitung
di Abad ke 4 yang berbunyi si Galigi mawayang
Wayang memilikki berbagai jenis, antara lain
:
1.
Wayang kulit
2.
Wayang kayu
3.
Wayang orang
4.
Wayang beber
5. Wayang golek
Langganan:
Postingan
(
Atom
)




